Sewindu Dinar Emas

Dinar emas yang kini hadir di tengah Anda untuk pertama kalinya dicetak kembali di Granada, Spanyol, pada 1992. Inisiatornya adalah Prof. Umar Ibrahim Vadillo, sesudah beberapa tahun lamanya ia melakukan kajian baik secara historis-empiris maupun dari sisi hukum Islam. Ukuran, karatase, dan rancangan rupanya, kemudian menjadi standar World Islamic Trading Organization (WITO) yang juga didirikan oleh Prof. Umar I. Vadillo. Di Indonesia koin dinar emas dan dirham perak berstandar WITO ini baru dicetak sewindu kemudian, yakni pada 2000, yang kini diedarkan di bawah kordinasi Wakala Induk Nusantara (WIN). Dengan demikian, pada 2009 ini, dinar emas dan dirham perak mulai menapaki usia sewindu keduanya sejak kelahirannya, atau sewindu pertamanya sejak beredar di Indonesia.

Dengan kurun waktu yang lumayan panjang ini, meski belum berarti apa pun dibandingkan dengan umur pemakaian emas itu sendiri dalam peradaban manusia, kita dapat melakukan kilas balik. Dalam hal ini kita bandingkan secara langsung dengan “nilai tukar”-nya terhadap sejumlah mata uang kertas utama dunia, dan terhadap rupiah. Tabel 1 di bawah, yang dikutip dari tulisan James Turk, Gold Climbs Again - Eight Years in a Row (www.goldmoney.com), memperlihatkan perbandingan kenaikan atau penurunan harga emas tersebut untuk kurun waktu sewindu, 2001-2008.

Data yang disajikan oleh James Turk mencakup sembilan mata uang utama dari sembilan negara di dunia, yakni dolar AS, dolar Australia, dolar Kanada, yuan Cina, euro, rupee India, yen Jepang, franc Swiss dan pundsterling Inggris. Untuk memberikan perspektif Indonesia tabel ini ditambahkan dengan kenaikan atau penurunan nilai tukar emas (dalam bentuk dinar emas) di Indonesia, dalam rupiah, untuk kurun waktu yang sama.

Tabel 1. Perubahan Harga Emas Tahunan

Sumber: dalam Rupiah dari data spot dinar emas WIN (akhir Okotber) , dalam mata uang lain

merupakan harga emas lantakan dari Turk (2009)

Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa kisaran kenaikan atau penurunan harga emas dalam sepuluh denominasi uang kertas dunia adalah antara (minus) 14.90% (dalam yen Jepang, 2008) dan 44.30% (dalam poundtserling Inggris, 2008). Secara rata-rata di semua negara mengalami kenaikan. Menurut James Turk kenaikan harga emas di semua mata uang ini terkait dengan fakta bahwa dolar AS merupakan mata uang cadangan internasional, yang disimpan oleg Bank Sentral seluruh dunia. Akibatnya, ketika dolar AS mengalami penurunan nilai, yakni sebesar 16.3%, akan membawa mata uang lain ke dalam liang yang sama.

Hal lain yang diperlihatkan oleh tabel di atas adalah kenaikan harga emas terjadi secara konsisten. Harga emas mengalami apresiasi 13.3% sampai 13.6% dalam kurun sewindu untuk empat mata uang, antara 10.6 dan 10.8% untuk dua mata uang (euro dan franc Swiss). Terlkihat di sini dua mata uang ini, euro dan franc, merupakan mata uang terkuat. Dalam kurun tersebut. Keempat mata uang lain, termasuk rupiah, adalah yang terburuk, emas mengalami apresiasi sebesar 15.40% dan 17.1%. Dalam hal ini, menarik diketahui, posisi rupiah terlihat justru lebih baik dibandingkan dolar AS dan poundsterling Inggris, maupun rupee India. Sebaliknya, posisi terburuk emas, terlihat pada nilai tukarnya dalam yen Jepang (2008), yakni minus 14.9%, tapi posisi terbaik emas juga terjadi pada tahun sama (2008), dalam nilai tukarnya dengan poundsterling Inggris, 44.3%.

Sekali lagi, emas menunjukkan kedigdayaannya dalam kurun panjang. Jelaslah bahwa nilai mata uang kertaslah yang berfluktuasi, dan bukan nilai emasnya, bahkan ketika tampak dalam yen turun -14.90%, dalam poundsterling, justru naik 44.30%. Naik turunnya ”harga” emas, adalah refleksi dari naik-turunnya mata uang kertas, tidak ada hubungannya dengan nilai emas itu sendiri. Antarmata uang kertas pun tampak terjadi fluktuasi, atau naik turun dari satu mata uang ke mata uang lainnya, dari waktu ke waktu. Tetapi, secara riel, seluruh mata uang kertas mengalami depresiasi, yang terbukti nyata bila dibandingkan dengan emas. Ini berarti, sebaliknya, emas memiliki nilai tetap. Inflasinya 0% di tempat mana pun di dunia ini!

Makna praktis lain dari kenyataan ini adalah bahwa tidak ada investasi dalam jangka panjang yang lebih baik ketimbang emas. Tabungan terbaik adalah dinar emas. Boleh jadi dalam beberapa saat Anda menukarkannya ketika, misalnya saja dalam rupiah, terasa mahal dan di kala lain terasa murah, tapi secara rata-rata akan selalu mendapatkan nilai yang terbaik. Jadi, jangan pernah galau, sepanjang dinar emas ada dalam genggaman tangan Anda. Sebagai pengingat: nilai tukar dinar emas tahun 2000 adalah Rp 400.000/dinar, sewindu kemudianm 2009, nilaunya telah menjadi sekitar Rp 1.500.000/dinar, meningkat hampir empat kalinya. Artinya rupiah kita, dalam kurun yang sama, telah kehilangan nilainya sampai 75%.

Bookmark and Share

Leave a Reply